Kelok 9, pemicu detak jantung.

Apa iya ada 9 kali kelokan?

Ah, sudahlah… saya lupa menghitung ada berapa kali kelokan. Lupa karena terhipnotis dengan pesona alam Sumatera Barat ini. Lupa juga karena sepanjang jalan jantung saya berdegup kencang, tak lupa sesekali berteriak histeris saat driver membanting setir di setiap kelokan. Bagaimana tidak? melewati tebing-tebing tinggi yang belum pernah saya lewati, terang saja saya agak norak.

Sebenernya apa sih Kelok 9 ini? Setelah melakukan in-depth interview dengan sejumlah penduduk lokal di balai desa setempat — wait, jangan amazed dulu… saya cuma berandai-andai kok, cukup dengan bantuan mbah google saja cari informasinya. Hehehe…

Pernah denger Pengunungan Bukit Barisan pas belajar geografi di bangku SD? Nah iya, semoga nggak bolos pas Ibu/Bapak Guru menjelaskan tempat ini. Merupakan jajaran gunung-gunung yang membentang dari ujung utara sampai ujung selatan pulau Sumatera. Balik lagi ke Kelok 9 tadi, jembatan layang itu melintasi sebagian kecil Bukit Barisan itu. Tepatnya di daerah Jorong Aie Putiah, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Kelok 9
Mbak, muka biasa aja dong, takut jatoh ya?
Kelok
Penampakan sang kelak-kelok dari puncak

Sejenak saya resapi, setiap kelokan itu seperti gambaran tantangan yang ada di kehidupan kita. Kadang kita histeris, shock, bingung, dan lain sebagainya saat harus melewatinya. Mungkin karena itu pengalaman pertama kita. Apa yang membuat saya terus melanjutkan perjalanan ini? karena saya tau tujuan saya kemana, dan kalau memang jalannya cuma lewat situ, saya bisa apa? Dinikmati saja, ya kan?

Advertisements

Menginjak Tana Toraja

Da’musule massambeko’ ke sumalong-malongko kayu sangbengnga’ kukurean sumanga’

Salah satu syair pantun tradisional khas Tana Toraja, atau dikenal sebagai Londe. Kurang lebih begini artinya “Terus berusaha dan jangan menunda-nunda waktu jika ingin masa depanmu cemerlang” (kira-kira begitu informasi yang saya sadur dari sumber terpercaya). Pantun-pantun ini biasanya dijadikan sebagai nasihat dari orang tua kepada anak-anaknya.

Saya membayangkan bahwa orang-orang yang menciptakan syair pantun pada tahun, ehmmm… entah puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, memiliki pemikiran yang  strategis. Menaruh konsep etos kerja menjadi tatanan budaya, bukankah hal ini patut diteladani?

Continue reading “Menginjak Tana Toraja”

Pavo muticus

IMG_5211

Siapa yang nggak kenal binatang secantik ini? Keelokan bulu-bulunya bisa dibilang juara seantero species burung.

Yang satu ini adalah Merak hijau, atau dalam tata nama binomial adalah Pavo muticus. Salah satu dari tiga species lainnya. Meski populasinya kini mulai berkurang, bahkan di India, Malaysia, dan Bangladesh sudah punah, kita patut bersyukur burung jenis ini masih ada di Indonesia.

Continue reading “Pavo muticus”

Senja di Senjo(yo)

Sendang /sen-dang/, sebuah kolam di daerah pegunungan dan sebagian airnya berasal dari mata air yang didalamnya.

Itulah sedikit gambaran, seperti apa Senjoyo itu. Konon katanya, dulu tempat ini sering dipakai untuk bertapa oleh Pangeran Senjoyo, seorang pendekar pada zaman kerajaan Majapahit. Mungkin karena nama beliau inilah, daerah ini diberi nama Senjoyo. Sendang ini terletak di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Setidaknya ada 9 titik mata air disana dan dikelilingi banyak pepohonan tua dan besar. Seiring berjalannya waktu, area disekitar sendang ini dimanfaatkan sebagai bumi perkemahan bagi anak-anak sekolah di sekitar Salatiga. Kebayang kan suasana disana seperti apa? Adem dong, tapi kalo malem emang rada spooky. Continue reading “Senja di Senjo(yo)”

Kerja tapi jalan-jalan

Hello word ♥ (again)

Akhirnya saya nulis lagi, HAH! kagok bukan main.
Ketik-hapus-ketik-hapus. Cuma itu yang mampu dilakukan oleh jemari yang tak sinkron dengan otak ini, emmm… hampir sejam. BOOM. Agak sedih sih sebenernya, I feel terrible :(. But well, I’ll try again.

Untuk merayakan kembalinya saya di dunia per-blog-an ini, saya putuskan buat cerita pengalaman saya bulan lalu jalan-jalan ke Sulawesi Selatan. Kenapa? Soalnya udah lama nggak nulis, jadi saya pikir lebih baik memulai dengan what i love the most, which is traveling! So, here the story! 🙂 Continue reading “Kerja tapi jalan-jalan”

Balada kebobrokan fondasi

Percaya kan ya kalo kita ini diciptakan oleh Yang Maha Kuasa secara unik dan untuk sebuah tujuan yang pasti. Dan yakin-seyakin-yakinnya kita diciptakan bukan dengan cara yang biasa-biasa aja. Yang bikin nangis adalah, ketika sadar dua fakta sebelumnya itu, trus ternyata aku menghidupi hasil karya-Nya dengan ala kadarnya. Kalo istilah sekarang itu populer dengan kata-kata ‘hidup itu nge-flow aja’, ‘let it flow’, whatever. Tapi harusnya kan dipastikan dulu biar nge-flow-nya itu di air yang jernih dan mengalir ke arah yang bener, jangan nge-flow di lumpur, yang ada kita kesedot trus mati. So pathetic! Continue reading “Balada kebobrokan fondasi”